Mukomukomangimbau.com – Kisah pemuda Kota Mukomuko bernama Riski, yang baru berusia 20 tahun cukup inspiratif. Bisa jadi motivasi untuk memulai dunia usaha.
Riski bercerita, beberapa bulan lalu ia pernah menyandang status pegawai honorer di Dinkes Kabupaten Mukomuko.
“Tugas saya di gudang obat. Baru beberapa bulan jadi honorer di Dinkes,” kata Riski saat ditemui hari Jumat, 13 Juni 2025.
Riski menuturkan, gajinya saat menjadi honorer sebesar Rp 300 ribu perbulan. Kalau ia ditugaskan mendistribusikan obat ke Puskesmas baru ada tambahan pendapatan dari uang jalan.
“Distribusi obat biasa triwulanan. Kalau gaji bulanan ya Rp 300 ribu,” katanya.
Angannya untuk menjadi abdi negara pupus. Kebijakan pemerintah merumahkan honorer mendepak Riski dari ruang gudang obat Dinkes Mukomuko.
Alih-alih kebijakan itu membuatnya terpuruk, justru yang terjadi sebaliknya. Riski memberanikan diri keluar dari “zona nyaman” yang sebetulnya tidak nyaman dari sisi penghasilan.
Riski banting setir dari honorer menjadi pedagang es kopi. Mulanya ia menjalankan usaha saudaranya. Tapi tidak lama.
Akhirnya Riski bertekad membuka usaha es kopi sendiri dengan brand “Okay Coffee”.
Apa yang terjadi? Meski harus menanggalkan seragam putih nan rapi, dan harus nongkrong di bawah terik matahari, penghasilan Riski jauh membaik. Lebih dari cukup untuk ukuran bujangan berusia 20 tahun.
Dengan berjualan es kopi, sekarang Riski bisa meraup omzet mencapai Rp 600 ribu per hari. Keuntungan bersih yang ia dapat bisa mencapai 50 persen atau Rp 300 ribu per hari.
“Kalau penghasilan sekarang (sebagai pedagang es) Alhamdulillah bang. Sebulan bisa Rp 5 juta lebih per bulan,” ungkap Riski disertai dengan senyum penuh semangat.
Hampir setiap hari Riski mangkal di komplek Perkantoran Pemkab Mukomuko, titiknya di samping Kantor Dinas PUPR. Sore hari ia mangkal di depan Kantor Pos Bundaran Kota Mukomuko.
Ia membawa bahan-bahan es kopi dengan box pendingin. Untuk memudahkan mobilisasi, box es kopi ia rakit dengan sepeda listrik.
Riski mengungkapkan untuk memulai usahanya, modal awal yang ia keluarkan sebesar Rp 15 juta.
“Untuk merakit sepeda listrik, beli box habis sekitar Rp 13 juta. Terus modal awal bahan es sekitar Rp 2 juta. Jadi modal awal sekitar Rp 15 juta,” pungkasnya.














